Nyi Ageng Serang memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Edi. Gelar “Nyi Ageng Serang” diperoleh karena Ia lahir di sebuah wilayah Bernama Serang, lokasinya ada di sebelah timur Provinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Wanita kelahiran 1 Oktober 1752 ini masih memiliki darah bangsawan Mataram. Ayahnya Bernama Pangeran Natapraja dan merupakan Panglima Perang Sultan Hamengkubuwono I.
Nyi Ageng Serang tumbuh menjadi Wanita yang tangguh dan memiliki semangat besar dalam perjuangan. Alih-alih belajar keterampilan di dapur dan mengurus rumah tangga, Nyi Ageng Serang diberikan keterampilan beladiri dan strategi militer. Kemampuannya ini menghantarkan dirinya ikut terlibat dalam Perang Diponegoro pada 1825. Gerakan perjuangan yang dilakukannya sampai ke wilayah Purwodadi, Demak, Kudus, Semarang, dan Rembang. Strategi perang andalannya yakni menggunakan lembu atau daun talas sebagai media penyamaran untuk mengelabuhi musuh.
Nyi Ageng Serang menikah dengan seorang pangeran bernama Kusumawiajaya. Pada masa gerilya dan perlawanannya, Nyi Ageng Serang sudah menggunakan simbol berupa panji dengan warna merah putih, panji tersebut diberinama Panji Gula Kelapa. Gula yang dibuat dari kelapa berwarna merah sedangkan putih adalah wujud dari warna daging kelapanya. Panji ini dililitkan pada tombak warisan Natapraja, bersama dengan slendang pusaka yang menjadi simbol perlawanan Nyi Ageng Serang.
Kesehatan Nyi Ageng Serang dalam perang Diponegoro semakin hari semakin lemah. Nyi Ageng Serang meninggal di Yogyakarta pada tahun 1828 dan dimakamkan di atas bukit, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Atas perjuangannya Nyi Ageng Serang ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden No. 084/TK/1974 pada 13 Desember 1974. Sebagai simbol perjuangan Nyi Ageng Serang, di Jalan Nasional Kulon Progo (Simpang empat Karangnongko), dibangun monumen perjuangan Nyi Ageng Serang.